1.sebutkan dua nama  pahlawan nasional

=cut nyak dien dan cipto mangunkusumo

2.jelaskan singkat mengenai bografi pahlawan tersebut (biografi adalah perjalanan singkat) 

=Suami pertama Cut Nyak Dien yang bernama Ibrahim Lamnga berjuang mengusir Belanda ketika wilayah VI Mukim diserang. Namun sangat disayangkan, suami dari Cut Nyak Dien tersebut harus gugur dengan terhormat di medan perang, tepatnya pada tanggal 29 Juni 1878.


Gugurnya suam Cut Nyak Dien menambah semagat Cut Nyak Dien untuk berjuang bersama rakyat Aceh demi mengusir penjajah Belanda. Untuk menjelaskan lebih dalam mengenai perjuangan Cut Nyak Dien


Biografi singkat Cut Nyak Dien dimulai dari masa kelahiran dan latar belakang keluarga beliau. Cut Nyak Dien adalah wanita kelahiran Lampadang, Kerajaan Aceh pada tahun 1848. Sayangnya, tidak diketahui dengan pasti mengenai tanggal lahir dari Cut Nyak Dien.


Cut Nyak Dien lahir dari keluarga bangsawan yang memang sangat taat dalam beragama. Keluarga dari Cut Nyak Dien bertempat tinggal di Aceh Besar, wilayah VI Mukim.


Ayah dari Cut Nyak Dien bernama Teuku Nanta Setia, yang merupakan seorang uleebalang VI Mukim, dan merupakan keturunan Machmoed Sati, seorang perantau dari Sumatera Barat. Machmoed Sati datang ke Aceh sekitar abad ke 18 di saat kesultanan Aceh kala itu diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Jadi tidak heran jika ayah dari Cut Nyak Dien masih merupakan keturunan Minangkabau. Beda halnya dengan ibu dari Cut Nyak Dien. Ibu Cut Nyak Dien merupakan seorang putri uleebalang Lampagar.


Di masa kecilnya, Cut Nyak Dien dikenal sebagai seorang gadis yang cantik. Dirinya memperoleh pendidikan pada bidang agama dan juga pendidikan rumah tangga. Tidak heran jika kala itu Cut Nyak Dien disukai oleh banyak laki-laki. Bahkan, karena kecantikannya, banyak laki-laki yang berusaha melamarnya.


Pada tahun 1863, tepatnya ketika Cut Nyak Dien tepat berusia 12 tahun, dirinya dinikahkan oleh orang tuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Pria tersebut merupakan putra tunggal dari uleebalang Lamnga XIII.


Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Belanda melalu armada kapal Citadel van Antwerpen, mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan. Kemudian pada tanggal 8 April 1873, Belanda di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler berhasil mendarat di Pantai Ceureumen dan langsung menguasai Masjid Raya Baiturrahman kemudian membakarnya.


Perlakuan Belanda tersebut memicu perang Aceh yang saat dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah melawan 3.198 prajurit Belanda. Namun, Kesultanan Aceh bisa memenangkan perang pertama melawan Belanda tersebut dengan tewas tertembaknya Köhler.


Kemudian pada tahun 1874-1880, di bawah kepemimpinan Jenderal Jan van Swieten, wilayah VI Mukim berhasil diduduki Belanda begitu juga dengan Keraton Sultan yang akhirnya harus mengakui kekuatan Belanda.


Hal tersebut memaksa Cut Nyak Dien dan bayinya mengungsi bersama ibu-ibu serta rombongan lain pada tepatnya pada 24 Desember 1875. Namun, suami dari Cut Nyak Dien tetap bertekad untuk merebut kembali daerah VI Mukim. Sayangnya, ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, dirinya tewas bertepatan dengan tanggal 29 Juni 1878. Hal tersebut akhirnya membuat Cut Nyak Dien sangat marah dan bersumpah untuk menghancurkan Belanda.


Demi melancarkan aksinya untuk menangkap Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, Belanda akhirnya mengirim unit “Maréchaussée”. Unit ini didominasi orang Tionghoa-Ambon yang dikenal susah ditaklukkan oleh orang Aceh.


Bahkan, karena saking kuatnya unit tersebut, Belanda merasa iba terhadap rakyat Aceh, hingga akhirnya Van der Heyden membubarkan unit “Maréchaussée” tersebut. Pasca bubarnya unit tersebut, jenderal yang memimpin perang dengan Aceh selanjutnya bisa dengan mudah mencapai kesuksesan, sebab banyak orang Aceh yang tidak ikut melakukan jihad karena takut kehilangan nyawa mereka.


Ketakutan orang Aceh tersebut dimanfaatkan Jendral Joannes Benedictus van Heutsz dan akhirnya menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak. Hingga akhirnya Belanda berhasil mendapatkan informasi bahwa Teuku Umar berencana untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899 di mana akhirnya Teuku Umar gugur karena tertembak peluru.


Meski begitu Cut Nyak Dien tetap memimpin perlawanan terhadap Belanda di daerah pedalaman Meulaboh dengan pasukan kecilnya. Pasukan Cut Nyak Dien terus bertempur hingga kalah pada tahun 1901, karena tentara Belanda sudah sangat terbiasa untuk berperang di daerah Aceh.


Di sisi lain, Cut Nyak Dien sudah semakin tua dan matanya mulai rabun. Dirinya juga sudah menderita encok dan jumlah pasukannya terus berkurang. Bahkan beliau dan pasukannya kesulitan untuk memperoleh makanan.



BIOGRAFI:

-Lahir:4-maret-1886 di desa Pecagakan jepara

beliau adlh putra tertua dari Mangunkusumo,seorang priyayi rendahan dalam struktur masyarakat Jawa.karir Mangunkusumo diawali sebagai guru bahasa melayu di sebuah sekolah dasar di Ambarawa,kemudian menjadi kepala sekolah pada sebuah sekolah dasar di Semarang dan selanjutnya menjadi pembantu administrasi pada Dewan kota di Semarang.sementara,sang ibu adalah keturunan dari tuan tanah di Mayong,Jepara.

Komentar